SEX EDUCATION
Suami Cemburu kepada Teman Waria
Pendidikan Seks bersama Kyai Pamungkas
Masalah seks dan relasi tidak seharusnya dipandang sebagai aib atau sesuatu yang memalukan. Dalam kehidupan rumah tangga, persoalan kepercayaan, kecemburuan, dan komunikasi sering kali menjadi pemicu konflik. Jika disadari sejak awal dan dibahas dengan cara yang tepat, masalah tersebut dapat diselesaikan tanpa merusak keharmonisan pasangan.

Waria, Biseks, atau Homoseks?
Pertanyaan:
Saya seorang istri yang bekerja sebagai karyawati dan saat ini membutuhkan saran terkait masalah rumah tangga. Saya memiliki teman sekantor seorang pria yang berperilaku kewanita-wanitaan, dan hal ini membuat suami saya merasa cemburu.
Saya sudah menjelaskan kepada suami mengenai kondisi teman tersebut. Ia sudah menikah dan memiliki anak. Saya sama sekali tidak memiliki ketertarikan seksual kepadanya. Saya hanya merasa nyaman berteman karena dia perhatian dan cerdas. Namun, suami tetap marah dan curiga.
Apakah kecemburuan suami saya kepada seorang waria termasuk wajar? Bagaimana cara menjelaskan kepada suami agar ia bisa lebih memahami situasi ini?
(Ny. Lestari, Surabaya)

Jawaban Kyai Pamungkas:
Istilah waria atau bencong dalam kajian seksologi umumnya masuk dalam kelompok transeksual. Secara fisik, individu tersebut adalah laki-laki dengan organ reproduksi pria yang normal, namun secara psikologis dan identitas diri merasa lebih nyaman berperan sebagai perempuan. Karena itu, sebagian tampil feminin dalam keseharian, bahkan ada yang memilih menjalani operasi kelamin.
Orientasi seksual waria bisa beragam. Ada yang tertarik secara seksual kepada laki-laki, ada pula yang menikah dengan perempuan karena faktor sosial, budaya, atau tuntutan keluarga. Kondisi ini berbeda dengan homoseksual, yaitu ketertarikan seksual kepada sesama jenis, yang tidak selalu ditunjukkan melalui penampilan feminin.
Dalam spektrum orientasi seksual, terdapat pula individu yang tergolong biseksual, yakni mampu tertarik secara seksual baik kepada lawan jenis maupun sesama jenis. Tingkat ketertarikan ini tidak selalu sama pada setiap individu dan bisa berbeda-beda intensitasnya.

Untuk kasus Ibu Lestari, kecemburuan suami dapat dikatakan wajar dan beralasan. Terlebih jika suami berada pada fase andropause, yaitu kondisi penurunan hormon androgen pada pria usia menengah ke atas. Penurunan hormon ini tidak hanya memengaruhi potensi seksual, tetapi juga emosi, sensitivitas, dan kestabilan suasana hati.
Suami yang merasa usia bertambah, vitalitas menurun, sementara istri masih aktif bekerja dan berinteraksi dengan rekan pria lain, dapat dengan mudah mengalami kecemasan dan rasa tidak aman. Perasaan inilah yang sering muncul dalam bentuk kecemburuan berlebihan.

Saran saya, jelaskan kembali kepada suami dengan cara yang tenang, tidak menggurui, dan tidak defensif. Bangun komunikasi yang bersifat empatik, dengarkan kekhawatirannya, dan yakinkan bahwa hubungan rumah tangga tetap menjadi prioritas utama.
Akan lebih baik jika suami juga mulai memperhatikan kembali kesehatan dan vitalitas dirinya, seperti dengan olahraga teratur, pola hidup sehat, serta pemeriksaan kadar hormon bila diperlukan. Ketika kondisi fisik dan emosional pria membaik, rasa percaya diri meningkat, kecemburuan berlebihan pun biasanya akan berkurang.
Dengan komunikasi yang sehat dan upaya bersama, hubungan suami istri dapat kembali harmonis dan penuh saling pengertian.
© Kyai Pamungkas
TERLALU LELAH HADAPI MASALAH?
Anda tidak harus kuat sendirian.
Jika semuanya terasa berat, mungkin ini saatnya berhenti sejenak… dan mulai menata arah.
Kami siap mendampingi Anda.
PEGURON SAPUJAGAD 1
(Kyai Pamungkas)
Jl. Raya Condet, Gang Kweni No.31, RT 01/RW 03, Balekambang, Kramat Jati, Jakarta Timur 13530
☎️ 0812-1314-5001
PEGURON SAPUJAGAD 2
(Aby Marnos)
Jl. Raya Gudo No. 50, RT 05/RW 03, Gudo, Jombang, Jawa Timur 61453
☎️ 0857-8008-0098






Users Today : 534
Users Yesterday : 1653
This Month : 25563
This Year : 124872
Total Users : 1316798
Who's Online : 11