Kisah Kyai Pamungkas:

SILUMAN CANTIK PANTAI UJUNG PANDARAN

Sekitar 200 kilometer dari arah kota Sampit, Kotawaringin Timur (Kalimantan Tengah) terdapat sebuah lokasi wisata pantai yang disebut Ujung Pandaran. Lokasi tersebut menjadi tujuan wisata tahunan bagi warga, khususnya saat tahun baru atau pada hari raya Idul Fitri.

Pantai sederhana dengan hamparan pasir di tepi muara laut, tanpa ada sarana penunjang bagi lokasi pariwisata. Mungkin hanya sekadar tempat duduk yang dibuat seadanya, sekadar untuk melepaskan penat setelah berlari-lari di tepi pantai.

Tetapi di balik kesederhanaan itu ada sesuatu yang unik di mata masyarakat Kotawaringin Timur (Kotim) pada umumnya, kendati tentunya tidak semua percaya. Pantai yang ujungnya menjorok ke muara sungai Mantaya tersebut diyakini banyak penghuni halusnya.

Suatu saat aku berkesempatan berkunjung ke pantai Ujung Pandaran untuk menghadiri sebuah perhelatan besar yang digelar organisasi kami. Waktu itu kami yang tergabung dalam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dipercaya Pemda setempat untuk menangani acara peringatan HUT Kotawaringin Timur yang akan digelar di pantai.

Sebelum berkunjung ke lokasi, aku sebenarnya sudah mendengar cerita aneh tentang pantai tersebut. Ada yang mengatakan jangan mengumbar kata-kata kotor. Apalagi melakukan perbuatan tidak senonoh. karena akan membuat Marah Mahluk halus di tempat tersebut.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 4 jam menggunakan kendaraan minibus, rombongan tiba di pantai sekitar pukul 16.00 sore. Perjalanan memang agak lambat, karena kebetulan jalanan tidak rata hingga sopir harus waspada.

Tiba ditujuan, kami menuju sebuah rumah penginapan yang memang telah disediakan pihak panitia. Beberapa rekanku ada yang langsung menikmati hembusan angin pantai, sementara yang lain meletakkan barang-barang perbekalan sambil mengatur kamar.

Sambil menikmati hidangan khas laut seperti rajungan (kepiting) rebus, aku memandang sekitar pantai yang ramai dikunjungi banyak muda-mudi bergandeng tangan di tepi pantai dengan wajah ceria. Sebagian di antara mereka berkejaran diantara ombak pantai.

Ada juga gadis-gadis berbikini, memperlihatkan tubuh padatnya sambil membiarkan kakinya terjilat ombak pantai. Sejenak pemandangan ini membuat mataku terpaku menatapnya.

“Bagaimana pendapatmu? Malam ini kita tidur di kamar atau begadang di pantai?” kata Anto, sahabatku sambil tersenyum. Senyumnya seolah mengejek, karena kulihat ujung matanya tak lepas dari gadis berbikini yang sejak tadi kuperhatikan.

Aku segera menangkap gelagat tidak beres di matanya. Sementara ia malah tertawa lebar melihatku.

“Ah, kamu seperti anak kecil saja,” katanya lagi sambil mengedipkan sebelah mata.

Malam hari, Anto benar-benar nekad. Entah setan apa yang merasuki otak ngeresnya. Saat aku rebahan di kasur, kulihat Anto berjalan keluar kamar.

“Kamu mau ke mana?” tanyaku.

“Mau ikut?” ujarnya balik bertanya, sambil mengedipkan mata.

Aku menggeleng. la pun pergi sendirian. Tetapi setelah kepergiannya, aku jadi penasaran. Tiba-tiba muncul keinginanku untuk mengintip perbuatannya. Aku beranjak perlahan-lahan dari pembaringan lalu menguntit kemana langkahnya pergi.

Kulihat ia menuju suatu tempat di tepi pantai, yang saat itu masih banyak muda mudi bercengkerama di sana. Anto berbicara dengan salah seorang gadis, lalu memisahkan diri dari yang lainnya.

Dalam remang-remang cahaya rembulan kulihat keduanya menuju semak-semak di tepi pantai. Astaghfirullah! Mereka pasti hendak berbuat mesum. Aku segera mengambil posisi sembunyi. Aku ingin mengejutkan mereka, agar urung melakukannya.

Tetapi belum lagi niatku kesampaian, tiba-tiba ada suara dan gerakan menakutkan. Cepat-cepat aku menoleh ke sekeliling untuk mencari tahu ada apa. Seperti ada sesuatu yang melangkah mendekatiku.

“Krosak, krosaaak, kroossaaaakk,”

Aku gemetar mendengar suara langkah berat itu.

“Siapa itu?” tanyaku dengan jantung berdebar. Tetapi tak ada jawaban. Tiba-tiba tercium bau wangi kembang melati. Padahal Setahuku di daerah tersebut tidak ada tetumbuhan tersebut. Seketika, bulu kudukku berdiri. Aku bergegas lari meninggalkan tempat itu sebelum terjadi sesuatu yang tidak kuinginkan.

Sekitar pukul 01.00 tengah malam, Anto pulang dengan muka letih. Badannya penuh keringat sehingga aku langsung tahu apa yang telah ia lakukan.

“Kenapa kamu tidak ikut?” katanya sambil mengguncang-guncangkan tubuhku. Saat itu aku sengaja pura-pura tidur agar tidak ketahuan telah mengikutinya.

“Darimana saja kamu?” tanyaku seolah baru bangun tidur.

Anto langsung menceritakan apa yang dialarminya sambil tertawa lebar.

Pada mulanya aku juga ingin menceritakan apa yang kualami, tapi kuurungkan niatku mengingat aku berencana menggagalkan perbuatannya.

“Kamu tidak mengalami sesuatu yang aneh?” tanyaku dengan nada biasa.

“Tidak. Memangnya ada apa?” tanya Anto. ta terlihat heran mendengar pertanyaanku.

“Ah. Tidak ada apa-apa,” jawabku singkat sambil bermaksud tidur.

Beberapa saat kemudian terdengar ketukan di pintu.

“Siapa?” tanyaku sedikit heran. Aku pun langsung beranjak membukakan pintu.

Seketika aku tegak terpaku melihat seorang perempuan cantik berdiri di depan pintu. la memandangku dengan tatapan mata sayu dan senyum aduhai. Aku sejenak terpana, namun cepat menguasai diri.

“Ada apa, dik?” tanyaku.

“Anto,” jawabnya singkat. Ia melirik ke dalam kamar, memandang tajam wajah Anto. Aku tersenyum melihat kelakuan perempuan itu. Anehnya, raut wajah Anto malah seperti orang kebingungan.

“Siapa itu, Naf?” tanyanya padaku. “Aku sepertinya tidak kenal. Mau apa dia mencariku ?”

Aku tidak percaya mendengar kata-kata sahabatku itu. Aku yakin ia hanya berpura-pura. Aku segera menyeret Anto lalu menghadapkannya ke arah perempuan itu.

“Ini yang namanya Anto. Kalau mau bawa silahkan,” kataku sambil tertawa.

Perempuan itu tersenyum, meski pandangan matanya begitu dingin. Ia menggamit lengan Anto dan membawanya pergi. Kulihat Anto menurut begitu saja. Padahal watak lelaki tergolong keras.

“Kamu sekarang ikut aku,” kata perempuan itu sebelum pergi. Kata-katanya terdengar jelas di telingaku.

Anto mengikuti saja ketika perempuan cantik itu membawanya pergi. Sesaat kemudian, entah apa sebabnya, aku merasa ada sesuatu yang tidak beres ketika keduanya menghilang di balik tikungan. Aku merasa menyesal membiarkan Anto pergi bersama perempuan itu.

“Kalian mau ke mana?!” seketika aku berteriak ke arah mereka.

Aku segera berlari menyusul mereka, tetapi anehnya, aku melihat Anto berjalan sendirian. Langkahnya seperti orang mabuk. la berjalan menerobos semak-semak di dekat pantai dan terus berjalan tak tentu arah.

Aku tidak punya keberanian untuk terus menyusulnya, karena kulihat ia memasuki daerah gosong pantai dan Cukup menakutkan bagiku. Aku segera balik ke penginapan untuk melaporkan kejadian itu kepada teman-teman yang lain.

Dalam sekejap, teman-temanku berkumpul. Kuceritakan semua yang terjadi, termasuk saat aku mencium bau wangi melati di semak-semak sebelumnya.

Saat itu juga kami berpencar melakukan pencarian. Kami terus mencari sambil berteriak memanggilnya.

Sekitar satu jam kemudian, terdengar teriakan sayup-sayup dari ujung pantai.

“Tolong, tolong…!”

Kami bergegas menyusul arah suara itu. Alangkah kagetnya ketika kami melihat Anto di sebuah gosong tak jauh dari pantai. Gosong itu sebenarnya menyatu dengan pantai, tetapi jika malam hari menjadi terpisah akibat laut pasang menggenangi cekungan di tengahnya. Aku dan kawan-kawan tidak mengerti kenapa Anto bisa sampai ke tempat yang menyeramkan itu. Secara akal sehat tak mungkin ia berani berenang selarut ini.

Akhirnya Anto dijemput menggunakan perahu dayung. Kulihat wajahnya pucat dan bajunya basah kuyup. Tapi yang memprihatinkan tatapan matanya yang kosong sambil mulutnya terus meneriakkan kata-kata minta tolong.

Seminggu sejak kejadian itu, Anto menjadi pendiam dan sering dicekam ketakutan. la menceritakan saat dibawa pergi perempuan itu. Menurutnya, perempuan itu tiba-tiba berubah wujud menjadi seekor ular besar yang terus menyeretnya hingga ke ujung pantai.

“Untung aku tidak dimangsanya,” kata Anto mengenang peristiwa yang nyaris merenggut nyawanya.

Konon, ular raksasa itu penjelmaan makhluk halus pantai Ujung Pandaran. Mungkin dikarenakan merasa tak senang dengan perbuatan mesum temanku itu, hingga ia menampakkan dirinya, lalu membawanya pergi. Entah untuk menakutnakuti atau mau memangsanya. ©️KyaiPamungkas.

Paranormal Terbaik Indonesia